Kidung Gumi Sasak

Kidung Gumi Sasak

by Momo DM

  0 Likes

full version available

Mengisahkan tentang Baiq Ayu Mandalika, seorang yatim piatu berusia 20 tahun lulusan SMA yang mengajar sebuah PKBM di rumah bibinya. Beberapa hari terakhir dia selalu bermimpi yang sama dan selalu menyanyikan sebuah lirik-lirik lagu Sasak dalam tidurnya. Kejadian itu diketahui oleh bibi yang merawatnya sejak kecil, Bibi Anti, sebagai sebuah petunjuk. Berkat ia juga, akhirnya Baiq dikenalkan pada teman lamanya, seorang penyanyi cilokaq legendaris bernama Ibu Nurhasanah dari Sakra Lombok Timur. Sepulang mengisi acara di Pura Lingsar, ia bersama anak lelakinya yang berusia 35 tahun, Lalu Getar Rinjani, yang memimpin grup cilokaq ‘Maiq Angen’ pun akhirnya menjemputnya. Baiq akhirnya meninggalkan PKBM yang kebetulan sudah diambil semua sarana dan prasarananya oleh Ridwan, teman SMA sekaligus mantan kekasih Baiq, mahasiswa tingkat dua di salah satu Universitas Mataram. Mengetahui hal tersebut, ayah Ridwan, Pak Sanusi marah dengan alasan tidak dapat belajar bersama Baiq. Itu artinya, ia tidak bisa dekat dengan cinta lamanya, Bibi Anti.
Dengan mudah Baiq menyerap ilmu yang diberikan. Auranya sebagai penyanyi cilokaq pun semakin menguat. Hingga akhirnya, sebulan kemudian, kemampuan Baiq diuji dalam sebuah hajatan Kepala Desa. Baiq pun mampu memberikan penampilan terbaiknya. Hal tersebut membuat Kepala Desa tertarik menjadikan Baiq sebagai istri keduanya. Melalui Jani, ia minta tolong untuk menanyakan maksud itu kepada Baiq. Baiq yang diam-diam telah menyimpan rasa kepada Jani pun menolak secara halus dengan alasan ingin menaikkan lagi pamor cilokaq yang hampir pudar. Mengetahui hal itu, Kepala Desa pun tidak memaksa. Dia justru salut dengan tekad Baiq dan memberikannya rekomendasi untuk tampil di berbagai acara besar.
Di sela-sela latihannya, Baiq membantu Ibu Nur berjualan surabi di pasar. Pada saat bersamaan, terjadi demo penolakan rehab pasar. Jani berhasil membantu Pak Kepala Desa menenangkan warga. Setelahnya Pak Kepala Desa mengabarkan, bahwa masyarakat sedang membicarakan perihal hubungan mereka berdua yang tinggal serumah tanpa ikatan. Bahkan Bibi Anti dan Ridwan yang mendadak mengunjunginya terkejut ketika melihat mereka sedang berduaan di kamar. Mereka mengira Baiq dan Jani telah melakukan hal-hal yang tidak senonoh.
Bibi Anti gundah melihat kenyataan yang dilihatnya. Berbeda halnya dengan Ridwan. Terbakar cemburu, ia menyebarkan berita di kampung, bahwa Baiq telah berbuat asusila dengan Jani. Bibi Anti mengalami tekanan dari sekitar. Beruntung ada Pak Sanusi yang selalu mendukungnya. Dia juga yakin Baiq tidak melakukan hal itu. Hanya saja masyarakat telah termakan omongan Ridwan. Mereka menyerbu rumah Bibi Anti dan memaksa untuk menikahkan Baiq dengan Jani. Berkat Pak Sanusi, massa berhasil ditenangkan. Keduanya lantas berunding tentang pernikahan Baiq. Keduanya memutuskan mengunjungi Baiq. Sementara di rumah Ibu Nur, Baiq sedang berusaha menghibur dirinya sendiri dengan latihan menyanyi cilokaq tanpa Jani yang masih sakit. Kedatangan keduanya membuat Baiq terkejut. Terlebih keinginan keduanya untuk menikahkan Baiq dan Jani. Baiq yang memang menyimpan cinta, tidak keberatan. Beda halnya dengan Jani. Meskipun, diam-diam dia juga mencintai Baiq, tapi kegagalan cinta masa lalunya dengan anak pak Kepala Desa yang baru saja melangsungkan pernikahan, tidak segera mengiyakan permintaan itu. Dia menolak halus rencana itu.
Baiq kecewa atas penolakan Jani. Ia pun akhirnya, memilih pulang bersama bibi dan Pak Sanusi ke kampungnya. Berita di kampung tentang dirinya membuatnya hampir menyerah. Sepulang Baiq, kesehatan Jani yang semakin buruk, membuat grup cilokaq pun bubar. Hal ini membuat Ibu Nur sedih. Ia gagal menjalankan amanat almarhum suaminya. Ia pun meminta agar Baiq mau kembali. Baiq menolak. Keputusannya sudah bulat. Hal itu membuat Jani merasa bersalah. Ia pun terpuruk dan banyak menghabiskan waktu di kafe-kafe Senggigi.
Kenyataan Baiq tidak jadi menikah dengan Jani, membuat Ridwan maju untuk meluruskan berita yang disebarkannya. Masyarakat pun percaya, bahwa Ridwan hanya salah lihat. Mengetahui hal itu, Bibi Anti memercayakan Ridwan untuk menjaga dan menemani Baiq yang kembali mengajar di PKBM. Kesempatan itu digunakan Ridwan untuk kembali mendapatkan cinta Baiq. Tanpa sepengetahuan Pak Sanusi dan Bibi Anti, Ridwan membawa lari Baiq. Ia menitipkannya pada temannya, Jaya Bakti, pemilik grup kecimol yang sering ditanggap untuk acara-acara pernikahan adat. Menyadari hal tersebut, Baiq menolak. Keinginannya didukung oleh Pak Sanusi dan Bibi Anti. Baiq pun pulang dari rumah Jaya setelah mengiyakan ajakan untuk latihan kecimol. Hati kecilnya kembali mengatakan, bahwa ini jalan hidupnya. Ia pun akhirnya resmi menjadi penyanyi kecimol pimpinan Jaya. Karir Baiq kembali melesat.


Di sisi lain, Jani akhirnya bangkit. Ia dikontrak oleh teman lamanya yang seorang manajer pemasaran hotel, Ahmad Fatoni, untuk tampil setiap malam Minggu di hotelnya. Grup cilokaq pun kembali hidup. Bahkan berkat penampilan itu, ada seorang bule perempuan, Margaretha, yang tertarik untuk belajar menyanyi cilokaq pada Ibu Nur yang kemudian membimbingnya dengan baik. Sementara di sela-sela mengisi pentas setiap malam Minggu di hotel, Jani juga menerima undangan hajatan lagi. Salah satunya adalah dari Pak Sanusi.

Tanpa sepengetahuan ayahnya, Ridwan menghubungi Jaya untuk tampil di acara pernikahan kakaknya. Tak terkecuali Jani yang juga tampil atas permintaan Pak Sanusi. Kedua grup musik itu akhirnya beradu. Grup kecimol dengan Baiq sebagai penyanyi, dan grup cilokaq dengan penyanyi bule. Popularitas Baiq tidak tertandingi. Grup kecimol berhasil mengalahkan pamor cilokaq. Jani pun mengakui kekalahannya. Tidak sampai di situ. Setelah acara selesai, pertarungan beralih menjadi masalah hati. Jani termakan omongan Ridwan yang mengatakan, bahwa Baiq telah menikah siri dengan Jaya. Menyadari cinta yang tumbuh di hatinya, Jani menantang Jaya untuk adu peresean. Keduanya bertarung. Jani menang, tetapi Baiq tidak serta merta menerima ajakan Jani untuk kembali berlatih dengan Margaretha. Baiq menolak. Ia sudah nyaman menjadi penyanyi kecimol. Terlebih Jaya telah menjanjikan akan mengajaknya rekaman.

Mengetahui penolakan Baiq, Jani memutuskan memberi waktu padanya untuk berpikir ulang. Dia pun meninggalkan Baiq dan berangkat ke Amerika atas ajakan Margaretha. Baiq tidak peduli meskipun telah didorong oleh Bibi Anti. Dia tetap melanjutkan tujuannya memiliki album rekaman bersama Jaya. Jaya merasa mendapat angin. Dia berusaha mendekati Baiq. Sementara Ridwan menyadari kesalahannya. Ia meminta maaf pada Baiq dan memilih mengikhlaskan Baiq untuk berbahagia dengan pilihannya. Sampai tiba waktu yang dijanjikan, Baiq tak kunjung memiliki album rekaman. Dia tetap bertahan tampil memenuhi undangan. Namanya semakin besar. Namun, dia merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya.
Baiq kembali mendendangkan kidung gumi sasak dalam tidurnya. Hal itu kembali membuat Bibi Anti kembali mengabarkan pada Ibu Nur yang akhirnya mengunjunginya. Baiq menumpahkan segala isi hatinya pada Ibu Nur yang meyakinkannya, bahwa ia juga akan sukses menjadi penyanyi cilokaq. Benar saja. Baiq kembali latihan bersama grup pelapis, tanpa Jani dan akhirnya bisa menghasilkan album rekaman. Album pun sukses terjual. Mengetahui hal tersebut, Jaya menyerah. Ia yakin, Baiq bukanlah jodohnya. Di balik kesuksesannya, diam-diam Baiq merindukan saat-saat bersama Jani. Tak terkecuali Jani yang merasakan rindu di sela-sela kemewahannya di luar negeri bersama keluarga bule. Banyak tempat telah ia datangi menampilkan cilokaq bersama grupnya. Dia memutuskan pulang. Keduanya sepakat menuntaskan rasa dengan bertemu di suatu tempat, saksi awal pertemuan mereka, Pura Lingsar.

http://bookslife.co//img/user_picture/_thumb75.jpg

Momo DM

other part